Senin, 23 Februari 2009 07:00
Kehadiran anak autistik di dalam keluarga menyebabkan perubahan cukup besar dalam berbagai aspek kehidupan. Orangtua harus memberikan perhatian yang jauh lebih besar kepadanya secara spesial. Interaksi dan disiplin yang diterapkan harus disesuaikan dengan karakter anak autistik. Dalam kehidupan sehari-hari saudara sekandung semestinya menyesuaikan diri dengan adik/kakaknya yang autistik, seperti interaksi, komunikasi, kegiatan rekreasi, dan makanan yang dikonsumsi.
Tingkat orangtua dalam penerimaan dan pola penanganan anak dengan problematika autisme sangat dipengaruhi tingkat kestabilan dan kematangan emosinya. Pendidikan, status sosial ekonomi, jumlah anggota keluarga, struktur dalam keluarga, dan kultur juga sangat melatarbelakanginya. Penerimaan orangtua sangat beragam terhadap kondisi anak dengan gangguan autisme ini.
Semakin tinggi tingkat penolakan, semakin lama rentang waktu reorganisasi yang dapat dilakukan orangtua dalam intervensi yang dilakukan terhadap anak. Semakin sedikit kesenjangan dan keragaman permasalahan dalam keluarga akan dapat membantu intensitas intervensi yang lebih optimal. Dinamika yang terjadi dalam keluarga sangat berpengaruh ketika menangani anak autistik.
Dalam kondisi itu orangtua memiliki peranan penting untuk mengelola keadaan keluarga secara total. Sebab, persamaan persepsi dan kondisi saling memotivasi di antara pasangan akan sangat menentukan optimisme penanganan anak. Tentu hal ini merupakan kondisi ideal yang hendaknya bisa diciptakan dalam lingkungan keluarga.
Memperkecil kesenjangan
Hal utama yang juga menjadi upaya dalam penanganan dan pendampingan anak dengan masalah autisme dari keluarga adalah memberikan bantuan untuk memperkecil kemungkinan timbulnya kesenjangan yang ada dalam tuntutan perkembangnya. Oleh karena itu, Endang Retno dalam makalah berjudul Penanganan Orangtua terhadap Kondisi Anak Autisme (2003) menerangkan tahapan penting yang harus dipersiapkan orang tua.
Pertama, pengenalan anak secara menyeluruh adalah tahap awal bagi orangtua untuk dapat melihat potret anak sesungguhnya. Dengan demikian, kita dapat memahami potensi positif dan kelemahan yang dimiliki anak, baik dari reaksi emosional, pola regulasi, rutinitas kegiatan, pola perilaku, maupun pola interaksi.
Kedua, memiliki keterbukaan dalam mempersiapkan pola dukungan bagi anak. Hal ini terkait dengan pihak praktisi atau ahli, lingkungan sekolah, ataupun persiapan internal keluarga. Ketiga, mempersiapkan program bersama pihak terkait yang memiliki pemahaman dalam melaksanakan program secara terpadu.
Maka, hal terpenting yang harus diberikan orangtua kepada anak autistik bukan hanya pendidikan atau usaha mengatasi perilaku mereka, melainkan hubungan yang dilandasi dengan kasih sayang dan penerimaan tulus. Meskipun membutuhkan perlakuan khusus, anak autistik jangan sampai menjadi pusat dari segalanya. Upaya yang dilakukan tidak boleh menyebabkan orangtua mengabaikan kebutuhan anak-anak lain dan pasangannya. Jadi, perlu ada keseimbangan seluruh anggota keluarga.
Kunci keberhasilan penyembuhan gejala autisme adalah orangtua dan terapi tata laksana perilaku. Tidak cukup dan tidak akan berhasil jika kita hanya tergantung pada ahli terapi. Orangtua pun harus terjun. Maka, saat yang paling baik melakukan terapi adalah sedini mungkin sebelum usia lima tahun karena pada masa ini pertumbuhan dan perubahan berjalan sangat pesat, baik fisik maupun psikis (Hurlock, 2002: 76).
Terapi tata laksana
Menurut psikiater anak, baik yang tergabung dalam Yayasan Autisme Indonesia yang berkedudukan di Jakarta maupun di RSUD dr Soetomo Surabaya, kelemahan autisme dapat dikurangi. Menurut Rudy Sutadi, walaupun tidak bisa disembuhkan 100 persen, autis dapat dilatih melalui terapi sehingga ia bisa tumbuh normal. Alasannya karena hasil penatalaksanaan terapi setelah usia lima tahun akan berjalan lebih lambat.
Anak autistik perlu diberi bantuan terapi okupasi untuk membantu menguatkan serta memperbaiki koordinasi dan keterampilan ototnya. (Handojo, 2003: 30). Beberapa program terapi penunjang bagi anak autistisk antara lain terapi wicara. Terapi ini membantu anak melancarkan otot-otot mulut sehingga mambantu anak berbicara lebih baik. Terapi okupasi untuk melatih motorik halus anak. Terapi bermain mengajarkan anak belajar sambil bermain (http://www.jurnal-kopertisa.com). Terapi medikamentosa berupa pemberian obat-obatan oleh dokter berwenang (http://www.dikdasmen-depdiknas.com). Terapi makanan (diet therapy) untuk anak-anak dengan masalah alergi makanan tertentu.
Menurut Rudy Sutadi, anak autistik harus diet susu sapi karena susu itu mengandung protein kasein dan terigu yang mengandung protein gluten. Tubuh anak autistik tidak bisa mencerna kasein dan gluten secara sempurna. Uraian senyawa yang tidak sempurna masuk ke pembuluh darah dan sampai ke otak sebagai morfin. Ini terbukti dengan ditemukannya kandungan morfin yang bercirikan kasein dan gluten pada tes urine anak autistik. Keberadaan morfin jelas akan memengaruhi kerja otak dan pusat-pusat saraf sehingga anak berperilaku aneh dan sulit berinteraksi.
Peluang anak autistik untuk \”normal\” kembali cukup besar. Orangtua harus selalu optimis. Jangan sampai terjadi seorang anak yang memiliki peluang untuk \”normal\” menjadi hilang hanya disebabkan pilihan orangtua yang salah dalam menentukan metode dan intensitas terapi.
Penting diingat, kondisi anak sangat berbeda sehingga modal awal dan hasil akhir sangat tergantung pada kuantitas dan kualitas gejala autisme di antaranya intensitas penanganan dini, tingkat inteligensi anak, kemampuan komunikasi dan sosial, perilaku, konsistensi pola asuh keluarga, lingkungan sekolah, dan masyarakat dalam membantu anak tersebut.
SITTA R MUSLIMAH Pemerhati Masalah Anak Usia Dini; Pengajar pada Bimbingan dan Penyuluhan Islam UIN Bandung
http://www.menegpp.go.id/index.
SELAIN faktor genetik, kecerdasan seorang bayi atau anak juga tergantung pada faktor lingkungan. Di antaranya, nutrisi yang baik, imunisasi, dan stimulasi atau rangsangan.
Bayi yang mendapat rangsangan secara tepat dan berkesinambungan tentu akan mempengaruhi perkembangan otaknya. Dengan begitu diharapkan perkembangan fisik, mental, dan intelektualnya akan melampaui kemampuan dasar atau potensi genetiknya.
PENELITIAN membuktikan bahwa pengalaman dan rangsangan yang diterima pada tahun pertama kehidupan akan berpengaruh pada perkembangan dan fungsi otaknya di kemudian hari.
Kartini Sapardjiman, Ketua Senam Otak Indonesia, mengatakan, kecerdasan bayi juga bisa dioptimalkan dengan senam otak. Senam otak adalah latihan yang terangkai atas gerakan-gerakan tubuh yang dinamis dan menyilang. Senam ini mendorong keseimbangan aktivitas kedua belahan otak secara bersamaan. Diharapkan, potensi kedua belahan otak akan seimbang sehingga kecerdasan anak pun menjadi maksimal.
“Selama ini banyak orang hanya menggunakan otak kirinya saja sehingga potensi otak kanannya tidak dimanfaatkan secara maksimal,” kata Kartini, dalam seminar “Senam Otak Ibu Hamil dan Bayi Merangsang Potensi Otak Sejak Dini” yang diselenggarakan atas kerja sama Klub Brain Gym Omni Medical Center (OMC) Kelapa Gading dan RS OMC Pulomas, Jakarta.
Pada kesempatan yang sama, ahli anak RS Omni Medical Center, dr Caroline Mulawi, mengatakan, stimulasi pada bayi bisa dilakukan sejak bayi dalam kandungan, yaitu sejak usia kehamilan tiga bulan.
“Stimulasi bisa berupa suara dan taktil (rabaan). Dari beberapa penelitian menunjukkan, bayi yang mendapat stimulasi ketika dalam kandungan memiliki tingkat inteligensia lebih tinggi 14 poin daripada yang tidak mendapatkan stimulasi,” kata Caroline.
Stimulasi harus dilakukan tiap hari pada setiap kesempatan berinteraksi dengan bayi, misalnya ketika memandikan, mengganti popok, menyusui, menyuapi makanan, menggendong, mengajak berjalan-jalan, bermain, menonton TV, bahkan menjelang tidur. Stimulasi harus dilakukan dalam suasana aman, nyaman, menyenangkan, penuh kasih sayang, dan gembira.
Pada prinsipnya, semua ucapan, sikap, dan perbuatan ibu atau pengasuh yang berulang-ulang akan terekam dalam otak bayi sehingga akan berisiko ditiru oleh bayi. Apa yang bayi lihat, dengar, atau rasakan akan menjadi pengalaman baru bagi bayi sehingga dia akan mencoba melakukannya sendiri.
SEJAK tahun 2001 sudah ditemukan senam otak yang bisa mengoptimalkan perkembangan dan potensi otak. Otak terbagi menjadi dua, otak belahan kanan dan otak belahan kiri. Otak kanan berfungsi untuk intuitif, merasakan, bermusik, menari, kreatif, melihat keseluruhan, dan ekspresi badan. Sedangkan otak belahan kiri bertugas untuk berpikir logis dan rasional, menganalisa, bicara, berorientasi pada waktu, dan hal-hal rinci.
Senam otak dengan metode latihan Edu-K atau pelatihan dan kinesis (gerakan) akan menggunakan seluruh otak melalui pembaruan pola gerakan tertentu untuk membuka bagian-bagian otak yang sebelumnya tertutup atau terhambat.
Senam otak ini bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk bayi. Senam otak pada bayi sebenarnya sangat sederhana. Contohnya, menggerakkan anggota badan secara menyilang dengan perantara mainan. Bisa berbentuk robot, boneka, bola, balon, atau apa saja yang sesuai dengan usia anak. Hal yang penting, gerakan yang dilakukan anak melewati garis tengah antara tubuh bagian kanan dan tubuh bagian kiri.
Kemampuan belajar paling tinggi tercapai jika dua belah otak, dua mata, dan dua telinga aktif serta bisa bekerja sama dengan baik. Selain itu, gerak badan juga terkoordinasi dan seimbang. Pertemuan gerakan yang menyilang ini merupakan pusat dari senam otak.
Senam otak dilakukan melalui tiga dimensi, yakni lateralitas komunikasi, pemfokusan pemahaman, dan pemusatan pengaturan. Lateralitas komunikasi (dimensi kiri-kanan) bertujuan untuk mengoptimalkan kemampuan belajar. Gerakannya menyangkut mendengar, melihat, menulis, bergerak, dan sikap positif. Gerakan-gerakan itu menyerap kemampuan komunikasi yang lebih cepat.
Misalnya, bola digerakkan ke kiri ke kanan di depan bayi, atau bayi memegang mainan lalu digerakkan ke kiri ke kanan. Bisa juga mainan yang berbunyi digerakkan ke kiri ke kanan secara menyilang. Bertepuk-tepuk tangan juga melatih pendengaran bayi. Bayi memegang jari kita lalu digerakkan ke kiri ke kanan, atau membentuk angka delapan tidur. Apa pun gerakannya asal berdimensi ke kiri ke kanan.
Pemfokusan pemahaman (dimensi muka-belakang) bermanfaat membantu kesiapan dan konsentrasi untuk menerima hal-hal baru dan mengekspresikan apa yang sudah diketahui. Gerakan berupa latihan meregangkan otot menyangkut konsentrasi, pengertian, dan pemahaman. Misalnya dengan melipat lutut dan sikut bayi berulang kali atau mengangkat tangan ke atas lalu digerakkan ke muka ke belakang.
Pemusatan pengaturan (dimensi atas-bawah) membantu meningkatkan energi yang menyangkut berjalan, mengorganisasi, tes atau ujian. Hal ini bermanfaat untuk membantu seluruh potensi dan keterampilan yang dimiliki serta mengontrol emosi, seperti menggerakkan kepala ke atas ke bawah, mengangkat beban ringan atau benda lainnya, kemudian digerakkan ke atas ke bawah.
sumber : http://m4rt3n.multiply.com/journal/item/6
Oleh Admin pada 10 Mar, 2010
Tugas paling sulit yang sering dihadapi oleh orang tua dalam membesarkan anak adalah pada saat anak berangkat dewasa ( usia remaja / belasan tahun ). Di satu sisi anak masih berada dalam dunia kanak-kanaknya tetapi di sisi lainnya ia mulai masuk ke alam kedewasaan. Suasana peralihan seperti ini sering membingungkan para orang tua karena berubahnya sikap anak. Ia bukan anak kecil yang dapat “dikendalikan” oleh orang tuanya malah kadang cenderung untuk melawan setiap pendapat orang tuanya. Keluhan-keluhan dari orang tua seperti ini, “Aduh, Bobi membuat saya hampir gila”, “Saya khawatir dia akan jadi apa nantinya?”, sering kali terdengar.
Dua issue utama pada remaja yang terkait dengan perkembangan adalah masalah individu dan seksualitas. Umumnya para remaja mulai “menarik diri” dari banyak nilai-nilai ( values) yang selama ini didapatkannya. Pada tahun-tahun “rawan” ini para remaja malah mengambil nilai-nilai dari peer groupnya ( kelompok ) dan budaya pop yang melingkar disekitar hidupnya. Ia mulai enggan untuk bergabung dengan acara-acara keluarga dan malah lebih sering bergabung dengan teman-temannya. Ia malah bertanya, “Apa saya harus ikut?” yang sering membuat orang tua sebal.
Dalam hal seksualitas, para remaja sering menerima pesan-pesan yang beragam. Dari orang tuanya atau Agamawan ia menerima satu pesan, tetapi di lain pihak ia menerima pesan dari berbagai media seperti tv, film, teman sekelompoknya dll. Untuk itu resep jitu bagi orang tua adalah mau terbuka terhadap anak remajanya agar ia dapat menyerap pesan yang baik dan jika ia bingung ia hanya berpaling kepada orang tuanya. Bagi kita orang Indonesia, pesan-pesan relijius dan moral dapat mencegah anak menyalah artikan pesan-pesan yang berhubungan dengan masalah seksualitas tersebut. Misalnya berbagai film di tv, terutama film-film seri remaja dari luar, disitu digambarkan bahwa berhubungan intim sebelum menikah adalah sah-sah saja. Disinilah tugas orang tua untuk menyiapkan dan melatih daya serap anaknya sedini mungkin. Jika sejak awal anak diberi pengertian yang memadai baik dari aspek rohani maupun kesehatan mungkin ia akan terhindari dari pengaruh negatif. Walaupun bukan tak mungkin lingkungan di luar rumah juga dapat mempengaruhinya. Meskipun begitu bukan berarti acara-acara televisi seperti itu tidak boleh ditonton sama sekali. Ambil segi positifnya seperti pesan tentang kesetiakawanan, gotong royong, kasih sayang dll.
Meskipun dikatakan bahwa masa remaja adalah “masa-masa penuh chaos” tetapi umunya para remaja dapat melewati fase ini dengan selamat. Meskipun begitu ada beberapa perilaku yang membutuhkan perhatian orang tua seperti : nilai pelajaran yang menurun, menarik diri dari pergaulan, gangguan pola makan dan yang berbahaya adalah penyalah gunaan obat-obatan dan alkohol. Untuk kedua hal ini orang tua harus menerapkan “zero tolerancy policy” ( tiada toleransi ). Konsep egaliterisme memang menempatkan manusia sederajat tetapi bukan berarti orang tua dan anaknya selalu sederajat. Mereka sederajat dalam pengertian sebagai umat manusia tetapi dalam bidang otoritas orang tua tentu tidak sama dengan anaknya. Ini yang harus disadari oleh orang tua walaupun bukan berarti orang tua harus menjadi otoriter. Orang tua mempunyai aturan-aturan, keputusan-keputusan dimana sang anak harus menghormatinya. Jika anak remaja dan anda terlibat konflik sehubungan dengan keputusan dan aturan yang anda buat yakinkan bahwa anda tidak setuju tanpa harus menjadi tidak dihormati oleh anak anda. Jika anak remaja anda makin kurang ajar, akhiri diskusi dengan mengatakan, “Bapak / Ibu tidak menganggap kamu secara tidak hormat tetapi bapak / ibu tidak mau kamu tidak menghormati kami. Diskusi ini selesai sampai kamu dapat menghormati kami dan berpikir secara jernih!” Sikap tegas dari orang tua dapat mengajarkan anak remaja anda untuk lebih menghormati orang tuanya selain menerapkan aturan dan keputusan orang tuanya tersebut. Karena itu sikap tegas orang tua memang diperlukan untuk menjadikan pribadi anak remaja mereka lebih dewasa dan tidak salah melangkah di alam kedewasaan.
Kemampuan berbahasa seseorang dipengaruhi oleh perpaduan dari faktor bawaan dan proses belajar dari lingkungannya. Sehingga dibutuhkan adanya upaya penumbuhkembangan yang terencana dan sistematis. Jika orang tua tidak memiliki pengetahuan yang lebih tentang hal-hal apa saja yang bisa mempengaruhi perkembangan bahasa pada anaknya kemungkinan besar mereka akan terlambat mengetahui ada atau tidaknya gangguan pada anaknya. Oleh karena itu sangat diperlukan pendeteksian sejak dini terhadap perkembangan bahasa anak yang diiringi dengan pengetahuan orang tua.
Bahasa merupakan salah satu parameter dalam perkembangan anak. Kemampuan bicara dan bahasa melibatkan perkembangan kognitif, sensorimotor, psikologis, emosi dan lingkungan sekitar anak. Kemampuan bahasa pada umumnya dapat dibedakan atas kemampuan reseptif (mendengar dan memahami) dan kemampuan ekspresif (berbicara). Kemampuan bicara lebih dapat dinilai dari kemampuan lainnya sehingga pembahasan mengenai kemampuan bahasa lebih sering dikaitkan dengan kemampuan berbicara. Kemahiran dalam bahasa dan berbicara dipengaruhi oleh faktor intrinsik (dari anak) dan faktor ekstrinsik (dari lingkungan). Faktor intrinsik yaitu kondisi pembawaan sejak lahir termasuk fisiologi dari organ yang terlibat dalam kemampuan bahasa dan berbicara. Sementara itu faktor ekstrinsik berupa stimulus yang ada di sekeliling anak terutama perkataan yang didengar atau ditujukan kepada si anak
Anak dikatakan mengalami keterlambatan bicara dan harus berkonsultasi dengan ahli, bila sampai usia 12 bulan sama sekali belum mengeluarkan ocehan atau babbling, sampai usia 18 bulan belum keluar kata pertama yang cukup jelas, padahal sudah dirangsang dengan berbagai cara, terlihat kesulitan mengatakan beberapa kata konsonan, seperti tidak memahami kata-kata yang kita ucapkan, serta terlihat berusaha sangat keras untuk mengatakan sesuatu, misalnya sampai ngiler atau raut muka berubah.
Diabetes pada Ibu Hamil Pengaruhi Perkembangan Bahasa Anak (Pengaruh Faktor Bawaan)
Perkembangan bahasa pada anak ternyata tidak hanya dipengaruhi oleh bagaimana cara yang dilakukan oleh orang tua untuk mendidik anak sejak kecil, tapi juga dipengaruhi oleh kondisi ibu pada saat hamil. Sesuai dengan studi yang dilakukan Fakultas Psikologi Universite Laval’s, Kanada, Seperti dikutip dari Sciencedaily, Minggu (9/11/2008), ibu hamil yang terkena penyakit diabetes, meskipun dapat melahirkan bayi sehat namun dikemudian hari anak akan mengalami keterlambatan perkembangan dalam kemampuan berbicara dan bahasa.
Penelitian tersebut menunjukkan kemampuan berbahasa pada 221 anak yang lahir dari ibu yang sedang mengalami penyakit diabetes. Kemampuan bahasa yang dipengaruhi termasuk kemampuan dalam memahami kosa kata maupun tata bahasa. Tes ini dilakukan pada 2612 anak yang berusia 18 bulan hingga 7 tahun. “Hasil penelitian menunjukkan anak yang lahir dari seorang ibu yang terserang diabetes mendapatkan nilai yang sangat rendah dalam tes berbicara, kosa kata dan tata bahasa dibandingkan dengan anak yang lahir dari ibu yang sehat.” Ujar Profesor Ginette Dionne
Kereta Bayi Pengaruhi Kemampuan Bahasa Anak (Pengaruh Proses Belajar dari Lingkungan)
Banyak hal yang dilakukan oleh orang tua dalam kesehariannya bersama anaknya. Termasuk memberikan beberapa stimulus yang mempengaruhi perkembangan sang anak. Namun terkadang orang tua melakukan hal yang mereka anggap benar tetapi belum tentu baik untuk perkembangan anak. Seperti cara yang salah dalam penggunaan kereta bayi oleh kebanyakan orang tua. Mereka tidak sadar bahwa ada beberapa hal yang harus diperhatikan karena bisa berdampak buruk pada anak jika menggunakannya dengan cara yang kurang tepat terutama terhadap perkembangan bahasa nya. Orangtua yang sering mendorong kereta bayi dari arah belakang, biasanya jarang berinterkasi langsung dengan sang anak. Alhasil mereka akan menjadi lamban dalam berbicara, berinteraksi dan berekspresi. Hal ini berdasarkan hasil penelitian para ilmuwan dari Universitas Dundee, Skotlandia.
Penemuan ini didasarkan atas penelitian terhadap 2.722 orangtua dan anaknya. Mereka juga melakukan eksperimen terhadap 20 bayi yang menggunakan kereta dorong. Para peneliti meminta para orang tua untuk mendorong kereta bayi dengan dua cara yang berbeda. Setengah perjalanan dilakukan dengan mendorong kereta secara berhadapan dengan sang bayi. Sementara setengah perjalanan lagi dilalui dengan mendorong kereta bayi dari arah belakang.
Hasilnya menunjukan, orangtua yang mendorong kereta secara berhadapan dua kali lebih sering berkomunikasi dengan anaknya. Sang anak pun lebih sering terlihat tertidur, ini menunjukan kalau mereka merasa aman dan nyaman. Sementara dari 20 bayi hanya satu bayi yang menunjukan ekspresi tertawa saat orangtuanya mendorong dari arah belakang.
Daftar Pustaka
http://www.jawaban.com/news/health/detail.php?id_news=090304184827
http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/12/09/13312448/gangguan.perkembangan.bahasa.pada.anak
Selamat datang di Blog Mahasiswa IPB. Ini adalah postingan pertamamu. Edit atau hapus postingan ini dan mulailah menulis blog sekarang juga!